BELAJAR KONSISTEN

Konsisten.

Gue sempet gak ngerti tentang apa itu konsisten,apa dibalik filosofi konsisten,dan gue beneran goblok pada saat sebelum gue tidak tahu maksudnya.
Sempat berhari-hari gue selalu bertanya-tanya dalam hati,apa keistimewaan dan arti sakral dari konsisten itu sendiri.

Gue kira konsisten hanya sekedar 'bertahan' dan memang hanya sebatas itu yang otak gue sanggup mengartikannya.

Gue sih sering dengar kata konsisten dari orang-orang. Mereka(dan termasuk gue) adalah orang yang gampang memproklamirkan diri sebagai pribadi yang 'konsisten'. Tanpa tahu hal mistis apa yang mengekor dengan 'konsisten' itu sendiri. *ini menurut gue. (jenius!!)

Ternyata gue masih bayi dalam hal mengartikan kata ini,masih jauh mengilhami maksudnya sendiri.
Gue,menurut gue yang membuat gue menganggap bahwa gue adalah orang yang konsisten adalah:
•Ketika gue membenci seseorang,gue 'merasa' sanggup untuk membencinya sampai akhir
•Sebagai seorang anak yang merasa wajib membalas budi,gue berusaha memberikan bantuan materil. Dan ini selalu gue lakukan tanpa pernah lupa.

Iya! Itu gue! Gue yang merasa konsep dari konsisten adalah pemikiran-pemikiran absurd gue yang diatas adalah benar bentuk dari sebuah konsisten. Gue? Emang gue adalah manusia dengan IQ yang absurd banget!

Sampai suatu ketika gue denger ada seseorang yang sedang ngomongin kata 'konsisten' .
Seketika gue merasa ditimpa cahaya dengan bias yang terlalu menyilaukan. Gue salah! Gue salah mengartikan kata keramat itu.

Gue belajar banyak dari seseorang itu,gue ibarat kambing congek saat ngedengerin dia ngomong. Gue merasa terperangah dan menganga. Hampir aja kambing tetangga masuk mulut gue,tuh kambing ngira mulut gue adalah kandangnya. Saking lebarnya mulut gue ternganga

Konsisten.

Dia mengajarkan sebuah ke'konsisten'an adalah ibarat sebuah sumpah. Hal yang harus kita lakukan dengan setia,apapun resikonya tanpa mengeluhkan opini sedikitpun. Tanpa mengumbar sensasi,tanpa bergurau,tanpa keterpaksaan.

Bukan untuk main-main,bukan untuk sementara,tapi serius sampai kita berkalang tanah.
Gue belajar banyak dari beliau. Dia yang mengajarkan gue arti konsisten tanpa berbalut amarah,tanpa sebuah kepalsuan.

Jika gue benci dengan orang,dan gue konsisten membencinya,menurut beliau gue saharusnya tidak pernah lagi memberikan sebuah kepalsuan terhadap orang itu,sebuah senyum palsu,dan sebuah tawa palsu. Membencilah tanpa setitikpun amarah dihatimu. Bencilah sifatnya,jangan orangnya. Ini (menurut beliau) cara aman untuk awet muda. Jangan diperbudak oleh ego.

Kekonsistenan yang murni,konsisten yang ikhlas. Tanpa menghela napas. Yang menurut beliau adalah setia yang ikhlas.

Oke! Gue belum bisa melakukan seperti yang beliau jelaskan. Gue masih sangat amat labil diusia yang masih mentah ini. Tapi gue tidak memberi tembok untuk memulai belajar. Karna masa kanak-kanak telah lewat untuk seratus persen ego menguasai diri. Gue masih sangat muda,tapi tidak kanak-kanak lagi. Gue belajar,gue mulai untuk memahaminya. Gue belajar untuk mengalahkan ego,dan sampai sekarang masih belajar. Gue belajar sebuah ketulusan,sebuah mata pelajaran kehidupan yang memang sangat sulit untuk dipahami. Setidaknya gue membuka diri untuk itu. Sebuah awal yang menurut gue sangat sehat untuk mempelajarinya.

Ibu.

Dialah orang yang kata-katanya merubah dunia gue,merubah konsep berpikir gue.
Seorang yang hanya tamatan SMA,seorang yang gue anggap gak mungkin bisa menjabarkan hal-hal seperti ini,yang mungkin tidak banyak tahu bahasa indonesia,dan kata-kata dalam KBBI. Merubah presepsi gue akan hal menilai orang.

Iya! Gue salah! Gue bersalah pernah berpikiran sedangkal itu,tapi gue belajar banyak. Sangat banyak dari beliau.

Dari situ gue belajar konsisten untuk mencintai beliau,tapi beliau tak butuh sebuah kekonsistenan.
Beliau tak butuh itu. Gue juga gak ngerti sama sekali tentang apa yang dibutuhkan beliau.
Tapi gue berusaha mengabdikan diri untuk meghormati beliau. Mencintai tanpa berharap surga milik gue. Kekonsistenan tanpa pamrih.

Gue Maria Loviana tanpa nama pena.


Peace out!

Posting Komentar

Habis Baca Komen ya!