Rintih Lirih

Aku berjalan cukup jauh meniti jalan kerikil ini

Berharap..

Memanggul matahari yang mengoyak nurani

Sampai lupa

Lelahku tak berujung

Terlalu jauh nestapa ini

Berjejer peluh menjejakkan diri

Bersama gemuruh jantung kadang berlari

Air mata tertetes menyeka luka

Aku lupa berujung dimana

Ego menyentak teguhku

Kadang..

Tak hiraukan tempo yang lama untuk sampai diujung sebuah ujung

Aku menoleh dan menyesali

Sesaat kukejar..

Jauh kembali melebihi pertengahan pencapaian

Kembali sesal menyadarkanku

Sesaat..

Kutatap tajam jalanku

Jauh ..

Terlalu jauh aku menari bersama kesemuan senandung senja

Lupa..

Terlalu berat aku memanggul

Kakiku menipis

Asaku tak berdesir

Habis..

Tak berujung sesalku mengutuk batin

Menangis,berubah pun tidak..

Ku genggam asa lagi..

Terlalu membunuh menusuk raga

Jiwaku tak apa..

Tak sengaja kulihat

Bayangan renta memilukan menatapku

Sadar..

Kutapaki lagi semua bersama usia yang sia-sia

Ujung tak lagi menjadi tekad

Aku sadar waktu telah tak berguna lagi

4 komentar

hmmmmm, penyesala yang membawa kegelisahan. (?)

Reply

Rapih banget ini. Bahasanya ampun. Pangeran terkukuh dengan alunan kata yang rapih ini.

Tampak sebuah kegelisahan dari penyesalan. Mungkin saja, puisi ini bisa jadi cara untuk kita mengatakan dalam cara yang berbeda.

Keren puisinya.

Reply

Yuuup..yuuup.. Mebawa kegundahan,kegulanaan #eehh

Reply

Waahh..wahhh terimaksih pujiannya pangeran (*ngggg?)
Menulis puisi adalah cara terbaik untuk melepaskan emosi.. Hehehe

Reply

Posting Komentar

Habis Baca Komen ya!